Organisasi

Ducting

Ducting Bersama merupakan saluran jaringan Fiber Optik dibawah tanah yang dapat digunakan secara bersama. Dalam memenuhi kebutuhan layanan data baik dalam kepentingan pengembangan jaringan maupun penambahan kapasitas, maka sebagaian besar Operator Telekomunikasi menggelar jaringan Fiber Optik di sepanjang jalur pedestrian baik jalan lokal, jalan Protokol Provinsi, maupun Jalan Provinsi.

Penggelaran kabel optik tidak hanya didominasi oleh para Operator Telekomunikasi, namun juga dilakukan oleh Perusahaan Penyedia Layanan Internet dan TV Cable untuk kepentingan layanannya sendiri. Ketika kondisi ini dibiarkan terus maka akan terus terjadi pembongkaran pedestrian jalan untuk melakukan penggelaran kabel optik. Seringkali pada saat penggelaran jaringan Fiber Optik di bawah tanah berlangsung menyebabkan kesemrawutan. Kabel Udara yang digelar pun tidak mengindahkan estetika kota sehingga menyebabkan banyak kabel udara yang melintang dan adanya beberapa tiang pada satu titik. 

Melalui kajian Ducting Bersama Pemerintah nantinya mempunyai regulasi yang jelas dalam mengatur penggelaran jaringan Fiber Optik baik di dalam tanah maupun di udara. Penggunaan jalur Ducting Bersama dapat dimanfaatkan sebagai media kabel Fiber Optik baik didalam tanah maupun di udara sehingga akan menciptakan nuansa rapi dan indah di setiap sudut wilayah Provinsi Jawa Barat.

Ducting Bersama ini digunakan sebagai jalur Backbone dan dalam implementasinya akan digelar oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan pihak pelaksananya adalah BUMD. Dengan demikian kedepannya setiap Operator Telekomunikasi dan Penyedia Layanan Internet & TV Cable akan melakukan penggelaran jaringan Fiber Optik yang baru diharuskan menggunakan Ducting yang tersedia agar tidak ada penggalian pedestrian jalan dan pemasangan Kabel Udara beserta tiangnya.

Ducting Bersama memanfaatkan teknologi baru yaitu Air Blow System. Teknologi ini diimplementasikan dengan cara menggelar beberapa duct berdiameter 4 Inch dan pada duct tersebut dapat dipasang hingga 6 microduct dengan diameter masing-masing sebesar 3.4 cm dimana microduct dapat menampung microtube hingga 7 microtube. Microtube inilah yang nanti menjadi tempat peletakan kabel optik dengan kapasitas hingga 144 Core.

Fiber Optik adalah saluran transmisi atau sejenis kabel yang terbuat dari serat kaca atau plastik yang sangat halus, dan lebih kecil dari sehelai rambut. Dapat digunakan untuk mentrasnmisikan sinyal cahaya dari satu tempat ke tempat lain, sumber cahaya yang digunakan biasanya bersumber dari sinar laser atau LED. Kabel ini berdiameter +/- 120 mikrometer. Cahaya yang ada di dalam serat optik tidak akan keluar karena indeks bias dari kaca lebih besar dari pada indeks bias dari udara. Dan karena laser mempunyai spektrum yang sangat sempit maka kecepatan transmisi fiber optik sangatlah tinggi.

Melalui perkembangannya fiber optik saat ini telah dapat menghasilkan pelemahan (attenuation) kurang dari 20 decibels (dB)/Km. Dengan lebar jalur (Bandwitdh) yang besar, maka mampu dalam mentrasmisikan data menjadi lebih banyak dan cepat dibandingkan dengan penggunaan  kabel konvensional. Dengan demikian fiber optik sangat cocok digunakan dalam aplikasi sistem telekomunikasi.

ANALISA KARAKTERISTIK GAIN SERAT OPTIK ERBIUM DOPED AMPLIFER MODE TUNGGAL

Abstrak

Kombinasi komunikasi yang menggabungkan suara, gambar dan data akhir-akhir ini berkembang dengan sangat pesat terutama perkembangan Internet. Kecepatan informasi merupakan hal terpenting karena kebutuhan mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Solusinya menggunakan sistem telekomunikasi optik. Beberapa metode telah dikemukakan, namun perkembangannya terus berlanjut. Salah satu komponen yang paling berperan dalam sistem ini adalah EDFA (Erbium Doped Fiber Ampliļ¬er).

PDF

 

Survivable architectures for time and wavelength division multiplexed passive optical networks

Abstract

The increased network reach and customer base of next-generation time and wavelength division multiplexed PON (TWDM-PONs) have necessitated rapid fault detection and subsequent restoration of services to its users. However, direct application of existing solutions for conventional PONs to TWDM-PONs is unsuitable as these schemes rely on the loss of signal (LOS) of upstream transmissions to trigger protection switching. As TWDM-PONs are required to potentially use sleep/doze mode optical network units (ONU), the loss of upstream transmission from a sleeping or dozing ONU could erroneously trigger protection switching. Further, TWDM-PONs require its monitoring modules for fiber/device fault detection to be more sensitive than those typically deployed in conventional PONs. To address the above issues, three survivable architectures that are compliant with TWDM-PON specifications are presented in this work. These architectures combine rapid detection and protection switching against multipoint failure, and most importantly do not rely on upstream transmissions for LOS activation. Survivability analyses as well as evaluations of the additional costs incurred to achieve survivability are performed and compared to the unprotected TWDM-PON. Network parameters that impact the maximum achievable network reach, maximum split ratio, connection availability, fault impact, and the incremental reliability costs for each proposed survivable architecture are highlighted.

Keywords : Network restoration; Protection switching; Survivability; Time and wavelength division multiplexed (TWDM) passive optical networks; Vertical cavity surface-emitting lasers (VCSELs)

PDF